Besok deh nulisnya, masih cape’ banget
tidur dulu ah…
Kamis pagi sekitar jam 10.00, kapalku berangkat ke daerah tujuan yaitu Gunung Tamang. Kapal yang sarat muatan membuatku jeri juga, karena posisi air sudah sangat dekat dengan bibir samping kapal. Banyak barang yang dibawa, mulai berasa bantuan Bulog, Indomie, dan segala macam belanjaan di bawa di kapal itu, mungkin untuk warung kali ya. Jika dibandingkan dengan jumlah orang, banyakan barangnya hehehe.
Tepat jam 12.00 siang aku melewati dermaga kecil yang Minggu kemarin aku datangi tuk menunggu kapal ini namun ditinggal pergi hehehe. Sambil menikmati nasi bungkus aku duduk di atas atap kapal kecil ini melaju pelan melewati Sungai Kapuas.
Sekitar jam 02.00 siang kapalku berhenti di sebuah dermaga kecil yang merangkap sebagai warung dan rumah makan, langsung deh liat kulkas yang ada di warung itu, nah kebetulan ada sebotol minuman anti dehidrasi yang dingin, wah seger nih… di sini aku pun berkenalan dengan seseorang yang ternyata adalah Kepala Desa di daerah yang aku tuju. Alhamdulillah hehehe sudah ada tujuan dan orang yang dicari pun sudah ketemu.
Setelah itu, kapal kembali berjalan perlahan melewati hutan rimba di kiri kanan, sekali-kali terlihat rumah kecil di pinggir sungai, pemandangan yang indah dan benar-benar petualangan, jadi inget jaman perang dulu hahaha.
Saat Maghrib, dimana sinyal Handphone pun sudah gak ada lagi, kapal merapat menurunkan barang di sebuah daerah bernama Buntut Limbung, sebuah dusun gelap karena memang belum ada listriknya, tapi ada yang pake genset malam itu jadinya gak terlalu gelap dan mencekam. Sekitar setengah jam kapal berhenti di situ menurunkan sebagian barang yang mungkin pesanan orang situ.
Kapalku kembali berjalan dengan perlahan di tengah gelapnya sungai kapuas, aku naik ke atas atap kapal, mengangkat kedua kepala ku ke langit, Subhanallah, kulihat bintang bertaburan dengan indahnya, di Pontianak aku gak ngelihat bintang sebanyak ini, banyak sekali, benar2 indah, rasa mencekam berjalan di tengah Sungai Kapuas dengan kapal kecil ini hilang begitu saja begitu melihat indahnya alam semesta…
Sekitar jam 08.00 Malam, kapalku tiba di sebuah daerah bernama Pulau Limbung, sebuah daerah yang cukup ramai dan terang, karena disini memang ada PLN yang memanfaatkan 2 system pembangkit yaitu PLTS dan Diesel bisa disebut Pembangkit Listrik Hybrid. Di sini aku menunggu sekitar satu setengah jam menurunkan barang yang cukup banyak. Sepertinya semua barang yang tersisa di kapal diturunkan disini.
Jam 09.30 kapal mulai berangkat lagi, pak Kepala Desa bilang masih sekitar 2 jam lagi, aduh masih lama pikirku, suasana kembali gelap di kiri dan kanan hanya terlihat hutan rimba, sekali-kali lampu sorot menyinarinya mungkin untuk membantu navigasi dan menghindar dari sampah-sampah kayu yang cukup besar yang bisa membahayakan kapal. Karena sudah sangat letih, aku pun tertidur dengan pulasnya. Tak berapa lama aku dibangunkan oleh ABK kapal bahwa sebentar lagi sudah sampai, aku liat kiri kanan kok masih gelap yach masih hutan rimba, mana desanya. Tak berapa lama kapalpun berhenti di sebuah jalan kecil terbuat dari kayu yang mengambang di pinggir sungai, aku turun disitu bersama kepala desa, suasana gelap sekali, aku hanya melihat 2 rumah dengan bantuan senter kecil, langsung deh aku masuk ke rumah kepala desa yang sangat sederhana, penerangannya hanya sebuah pelita kecil, benar-benar seperti jaman perang dulu hehehe. Ngobrol-ngobrol sebentar, kepala desa pun mempersilahkan kami untuk tidur, gila’ ternyata perjalanan ke daerah ini memakan waktu 14 jam, perjalanan yang benar-benar melelahkan…
Bersambung
http://karangan.wordpress.com/author/qaislam/
apa nama kamu? saya dari singapura.
boleh kamu bicarakan saya satu karangan bebas kerana saya ada pertandingan
boleh kamu bicarakan saya satu karangan bebas kerana saya ada pertandingan
ha ha ha
website di atas ini kirakan apa? saya dari singapura
time kamu rizko nggak taruk betul